“Si Mahmud datang berlereng, lalu berhenti sebentar dekat anak-anak itu. Disangkanya mereka itu akan memuji-muji kepadanya. Tetapi anak-anak itu diam saja.” Narasi merupakan adegan pembuka cerita pendek berjudul “Anak yang Berani”. Cerita termuat di buku Matahari Terbit garapan J. Lameijn dan Oesman (dalam Pit Onthel, KPG, 2011) yang pada 1946 telah cetak ulang kali ketiga. Pembaca mungkin merasa janggal dengan kerja “berlereng” yang dilakukan Mahmud. Imajinasi atau referensi “lereng” bagi pembaca di abad XXI mengacu pada lereng gunung, sebidang tanah yang landai atau miring. Pengertian itu rasanya tidak berterima dengan konteks yang dihadirkan dalam cerita.
Tangan pun meraih buku terdekat, Tesaurus Bahasa Indonesia (cetakan ke-3, 2009) garapan Eko Endarmoko, untuk mencari kata-kata lain yang bersinonim dengan “lereng”. Di halaman 379, kita berjumpa dengan lema “lereng”. Eko memberitahu, kata “lereng” bersinonim dengan kata “lamping dan terbis”. Sinonim yang diajukan Eko masih mirip dengan pemahaman pembaca “lereng” di abad XXI. Lebih baik kita melanjutkan membaca cerita, siapa tahu ada penjelasan kata “lereng” dari pengarang.
Begini lanjutan ceritanya: Anak-anak yang didekati Mahmud adalah Saleh, Husin, dan Salim. Ketiganya akan bermain sepak bola tapi kekurangan satu orang untuk bermain dua lawan dua. Kedatangan Mahmud membawa harapan buat mereka. “Ikut engkau main?” tanya si Husin. Mahmud tidak mau. “Ia marah sebab anak-anak itu tak mengindahkan kereta anginnya, yang baru dibelikan ayahnya.... Sebab itu dikendarainya pula sepedanya itu, lalu diteruskannya perjalanannya.”
Meski pengarang tidak memberi penjelasan secara gamblang tentang “lereng”, kita pun bisa merunut rujukan-rujukan yang dimunculkan pengarang dalam lanjutan cerita tersebut. Pengarang menyebut istilah “kereta angin” dan “sepeda”. Apakah lereng itu sepeda? Tanya memerlukan jawab. Pencarian lewat Tesaurus Bahasa Indonesia pun berlanjut. Di halaman 585, kita menemukan lema “sepeda”. Menurut Eko, sepeda bersinonim dengan kereta/roda angin, pit, dan besikal. Sepeda dan kereta angin adalah benda yang sama. Namun di Tesaurus Bahasa Indonesia, kita tak pernah menemukan kata “lereng” bersinonim dengan sepeda.
Dari tesaurus, pencarian beralih ke kamus. Pilihan jatuh pada kamus-kamus lawas katimbang kamus baru, menimbang tahun penerbitan cerita “Anak yang Pemberani”, 1946. Di Kamoes Indonesia (cetakan ke-7, tanpa tahun) garapan E. St. Harahap yang terbit di masa pendudukan Jepang, kita bisa menyimak makna “lereng” di halaman 204, “lereng diseboet djoega: kereta kaki, betja, dan lain-lain”. Menurut kamus yang disusun E. St. Harahap pada Juli-September 1942 itu, kereta kaki sama dengan sepeda (hlm. 342). Di Kamus Umum Bahasa Indonesia cetakan ke-4 (1966), kita menemukan lema “lereng” di halaman 534. Lereng adalah permukaan pada keliling barang jang pipih (seperti uang, roda, dan sebagainya); misalnya pada lereng mata uang rupiah Belanda diukirkan perkataan “God zij met ons”; kereta lereng, kereta angin; sepeda. Di bawahnya ada sublema “berlereng” yang artinya bersepeda. Tapi sublema ini bertanda salib, bahwa kata “berlereng” sudah arkais, usang, atau sudah tak digunakan.
Jawab sudah ditemukan. Lereng itu sepeda. Dan kisah berlereng antara Saleh dan Mahmud pun berlanjut. Mahmud yang sombong jatuh ke sungai saat berlereng. Ia ditolong si Saleh yang sering dijahatinya. Peristiwa mengubah jalan pertemanan keduanya. “Setelah si Mahmud sembuh, berlerenglah ia bersama-sama dengan si Saleh ke tanah lapang. Lereng itu baru dibeli keduanya.” Cerita pun berakhir. Puluhan tahun berlalu, bahasa pun berkembang dan berubah. Orang tak tahu lagi atau lupa akan makna kata “lereng”, meski di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi keempat, 2014: 819) kita masih bisa menemukan lema tak arkais, “lereng” yang polisem ketiganya berarti sepeda. []