Skip to main content

Burung-burung manyar jantan adalah para insinyur pembangunan yang baik. Saat usianya sudah akil balik atau memasuki tahap bercinta, burung manyar jantan akan membangun sarangnya sendiri. Mereka mengambil alang-alang, daun tebu, atau daun-daun panjang lainnya untuk menciptakan istana yang rapi dan bercitra tempat berlindung terbaik. Sedangkan manyar betina hanya melihat saja dengan santai, tapi penuh perhatian. Manyar-manyar betina akan memberi penilaian pada sangkar-sangkar bikinan manyar jantan. Pelbagai pertimbangan dibuat dan mereka pun memilih sarang yang berkenan di hati. Berbahagialah manyar jantan yang terpilih. Bagi burung yang tidak dipilih, mereka akan menghancurkan dan merusak sarang bikinannya. Sarang yang dibuat dengan segenap tenaga dan kesabaran itu ditendang ke bawah. Namun syukurlah, burung manyar itu tak kenal putus asa. Mereka yang tidak terpilih akan berjuang lagi, mengambil daun-daun dan mulai membangun sarang-sarangnya kembali.

Penjelasan ihwal burung-burung manyar itu diperoleh Y.B. Mangunwijaya dari buku Dierenleven in Indonesia (Kehidupan Hewan di Indonesia) karangan Dr. H.C. Delsman (majalah Baca, Agustus 2002). Berkat buku itu pulalah Romo Mangun mampu menyelesaikan novelnya Burung-Burung Manyar setelah mengendon selama tujuh tahun. Novel Burung-Burung Manyar terbit kali pertama pada 1981, saat posisi pemerintahan Orde Baru sudah mantap menemukan pijakannya. Pemerintahan Soeharto waktu itu terkenal dengan gaya diktator dan otoriternya. Romo Mangun mungkin sudah muak dengan situasi yang segala-galanya coba dikondisikan negara tersebut. Tak ada kebebasan dalam sistem pemerintahan Orde Baru. Rakyat mesti patuh pada negara. Hal-hal yang boleh dan dilarang untuk dilakukan rakyat sudah diatur sedemikian rupa demi stabilitas negara.

Alih-alih mendukung program pemerintah, Burung-Burung Manyar justru memuat satire atas sistem politik dan pemerintahan Orde Pembangunan. Burung-burung manyar, kata Romo Mangun, “adalah bahasa pembangunan itu sendiri yang mengejawantah ke dalam sikap dan emosi yang dapat tercatat oleh mata manusia, tertangkap telinga manusia.” Pembaca insaf, pembangunanisme yang menjadi obsesi Orde Baru telah merenggut dan menghancurkan nilai-nilai kehidupan lain: kemanusiaan. Situasinya mungkin hampir mirip dengan masa revolusi fisik dulu. Bedanya, penjajahan oleh bangsa asing di masa Orde Baru telah beralih pada bentuk perusahaan-perusahaan multinasional yang berbagi keuntungan dengan pejabat-pejabat negara yang korup. Kota-kota di Indonesia pun bersolek pamer diri atas nama kemajuan, sedang desa-desa tak terlalu jelas nasibnya.

Pembaca bisa menyimak pelbagai narasi semacam itu pada bagian ketiga novel Burung-Burung Manyar. Bagian ketiga inilah yang tampaknya menjadi fokus Romo Mangun dan menjadi ruang tumpahnya pelbagai konflik. Sedangkan bagian pertama dan kedua hanyalah tahap-tahap awal, pengenalan tokoh, dan nostalgia sejarah yang sudah dianggap “selesai” oleh Setadewa dan Larasati, tokoh utama dalam novel ini. Pengisahan rezim Pembangunan di novel Burung-Burung Manyar mendapat ruang terbesar. Dari 406 halaman keseluruhan novel, narasi yang berlatar pada 1968-1978 mendapat ruang 180 halaman. Romo Mangun menggambarkan, meski Indonesia telah merdeka, ternyata hidup rakyatnya tak banyak berkembang. Desa-desa masih rawan kejahatan dan kesewenang-wenangan.

Suatu hari di tahun 1968, warga Juranggede digegerkan adanya pungutan liar. Para pemilik hewan ternak seperti ayam, itik, kambing, sapi, kerbau, diminta untuk membayar sekian rupiah demi keamanan. Pungutan itu disebut “sukarela”. Warga tidak percaya dengan istilah itu. Simaklah tanggapan Karjo, warga di desa itu: “Ya, tentu saja semua sukarela, tapi sukarela wajib. Kalau tidak sukarela, nanti dibikin sukar-sukar sampai rela.” Tanggapan itu berasal dari masyarakat bawah yang tak berafiliasi dengan partai politik apa pun. Artinya memang demikianlah situasi yang mereka alami dan rasakan. Seakan-akan “disukar-sukar sampai rela” itu cara yang biasa diterapkan dalam sistem pemerintahan Orde Baru. Kesewenang-wenangan terus terjadi meski Indonesia telah merdeka. Romo Mangun memberikan satire pada pemerintahan Orde Baru meski tak pernah menghadirkan nama Soeharto di novel.

Tampaknya situasi rawan itu memang telah dikondisikan oleh “aparat”. Apalagi saat itu sedang ada pencalonan kepala keamanan. Dalam sebuah kampanye, kepala keamanan terpilih di desa itu berkata: “Kalau saya yang dipilih, tanggung perkutut-perkutut akan damai memanggung dan seluruh desa akan aman tenteram.” Tapi sebaliknya, jika dia tidak dipilih, segala malapetaka akan turun berlipat-lipat. Warga tentu was-was. Ketimbang hidupnya menjelma mimpi buruk, warga memilih orang tersebut. Terbukti, kemudian desa menjadi aman. Kekuasaan telah disalahgunakan dengan sewenang-wenang demi kepentingan pribadi. Rakyat tetap menjadi korban atas nama pembangunan. “Ini bukan zaman liberal seperti dulu. Semua harus berdisiplin parsitisapi (partisipasi) pembangunan.”

Mendengar pernyataan-pernyataan warga desa Juranggede yang demikian, membuat Setadewa terkejut. Setadewa memang anak kolong, anak kompeni, bajingan KNIL yang telah kalah dalam perang fisik dulu, tapi sifat dan wataknya justru lebih merdeka ketimbang orang-orang Indonesia. Ia telah puluhan tahun pergi meninggalkan tanah kelahirannya untuk berkuliah di Harvard, Amerika Serikat, namun situasi masyarakat Indonesia tak banyak berubah. Mereka masih terlalu gampang ditipu dan dimanfaatkan orang lain, termasuk oleh perusahaan multinasional Pacific Oil Wells Company, tempat Setadewa bekerja. Perusahaan itu telah merugikan Indonesia milyaran rupiah. Meski Setadewa tak pernah jelas kewarganegaraannya, ia tak segan untuk menunjukkan kepeduliannya pada kejujuran, kebenaran. Segala risiko, termasuk pemecatan dirinya, siap ditempuh. Korupsi itu tidak manusiawi. Romo Mangun tampak begitu berpihak pada “kemanusiaan”.

Romo Mangun dalam esai Pengakuan Seorang Amatir menerangkan bahwa penulisan novel Burung-Burung Manyar dirangsang oleh pembacaannya atas novel Max Havelaar garapan Multatuli. Pengakuan membuat kita iseng menandai jejak-jejak Max Havelaar tatkala membaca Burung-Burung Manyar. Kemiripan yang langsung tampak pada keduanya adalah pemakaian dua sudut pandang dalam penceritaannya: sudut pandang orang pertama dan orang ketiga. Selain itu, barangkali nafas “kemanusiaan”-lah yang berusaha disuarakan dua novel beda generasi ini. Max Havelaar ditulis dan terbit pada abad XIX, Burung-Burung Manyar ditulis dan terbit di abad XX. Keduanya seakan telah menerabas batas-batas suku, ras, agama, negara demi cita-cita kemanusiaan yang adil dan beradab.

Tapi tampaknya Orde Baru terlalu silau dengan pembangunan fisik. Saat ada kebakaran rumah di sebuah desa dekat lereng Gunung Merapi, pemerintah justru memberi nasihat agar rakyat tak membuat rumah dari bambu. “Itu tidak sesuai dengan Orde Pembangunan,” katanya. Padahal, menurut warga Juranggede, saat di sana ada kebakaran, tentulah itu sengaja dibakar oleh para bandit-bandit. Pembangunan ala Orde Baru telah mengabaikan manusia? “Ingin itu kutanyakan pada burung-burung manyar. Tetapi sekarang sudah jarang kulihat mereka,” kata Setadewa. Burung-burung manyar terusir dan semakin langka akibat obsesi pembangunan ala Orde Baru yang membabat hutan-hutan demi sawah atau permukiman. Romo Mangun mencoba mengekalkan keberadaan burung-burung manyar atau burung-burung pembangunan itu dalam bentuk novel, dibumbui satire agar novel tak sekadar cerita. Seperti halnya KNIL bagi Setadewa, proklamasi kemerdekaan bagi Indonesia, novel bagi Romo Mangun hanyalah alat. Novel adalah alat untuk mengadakan ralat atas nalar kekuasaan yang jauh dari kewajaran, kejujuran, demokrasi, dan kemanusiaan. []